Rabu, 30 Mei 2012

Liga Mahasiswa NasDem Berupaya Cetak Profesional

Media Indonesia, Minggu, 27 Mei 2012

"Ini alternatif pendidikan yang coba kita berikan, khususnya bagi mahasiswa hukum untuk peningkatan kapasitasnya memahami prosedur hukum untuk acara peradilan," kata Ketua Liga Mahasiswa NasDem Willy Aditya.

JAKARTA--MICOM: Liga Mahasiswa Nasional Demokrat (NasDem) terus mencoba menggerakkan generasi muda lewat berbagai program berbasis belajar.

Kali ini Liga Mahasiswa NasDem menggelar pelatihan pendidikan teknik legal opinion atau biasa disebut paralegal bagi mahasiswa hukum yang tergabung dengan Liga Mahasiswa NasDem.

Dalam pembukaan pelatihan dan pendidikan perdana di Gedung Prioritas, Jakarta, Sabtu (26/5), diikuti mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Tanpa bayaran sepeserpun, puluhan mahasiswa tersebut mendapatkan pelatihan dari pakar-pakar hukum ternama seperti advokat Taufik Basari dan advokat senior OC Kaligis.

"Ini alternatif pendidikan yang coba kita berikan, khususnya bagi mahasiswa hukum untuk peningkatan kapasitasnya memahami prosedur hukum untuk acara peradilan," kata Ketua Liga Mahasiswa NasDem Willy Aditya.

Dirinya menjelaskan, program yang digagas ini untuk mendekatkan mahasiswa pada dunia praktis yang berbasis pada kemampuan dan kapasitas. Karena Liga Mahasiswa NasDem tidak sekadar mencetak kader politisi, tapi juga profesional. (OL-11)

Belajar ke Penjuru Dunia demi Bangsa

Media Indonesia, Jumat, 25 Mei 2012

Ketua Umum Liga Mahasiswa NasDem Willy Aditya memaparkan, Liga Mahasiswa NasDem setiap tahun membuka kuota buat 20 mahasiswa untuk mengambil gelar master di luar negeri. “Kemarin yang lolos seleksi hanya tujuh orang,” paparnya.

Seusai kalah dalam Perang Dunia II, Kaisar Jepang Hirohito tidak menanyakan besar kerugian negara ataupun jumlah prajurit yang gugur. Hirohito justru mempertanyakan, berapa banyak guru yang tersisa.

“Pertanyaan Kaisar tersebut sangat luar biasa. Coba kita pikirkan dengan mendalam. Pendidikan menjadi dasar untuk membangun sebuah bangsa menjadi besar,” ujar Ketua Majelis Nasional Partai NasDem Surya Paloh di Jakarta, kemarin.

Surya mengungkapkan hal itu seusai melepas tujuh perwakilan Liga Mahasiswa NasDem yang akan mengambil gelar pendidikan master di China. Mereka dikirim ke China atas kerja sama Liga Mahasiswa NasDem dengan Nanyang ASEAN International. Di China, para mahasiswa akan fokus pada kajian pendidikan maritim, organic farming, teknologi informasi, energi terbarukan, budaya, dan turisme.

Untuk menciptakan sebuah bangsa yang besar, lanjut Surya, tidak cukup dengan memberi pendidikan yang layak bagi generasi muda. Generasi muda harus mendapat fasilitas dan kesempatan meraih pendidikan yang hebat.

Surya pun meyakini, bangsa Indonesia hanya bisa bangkit bila ada keterbukaan kesempatan memperoleh pendidikan tidak hanya terhadap kalangan yang memiliki uang.

Kamis, 26 April 2012

Politik Hubal Abad Ke-21

Willy Aditya 
Direktur Populis Institute dan Ketua Umum Liga Mahasiswa NasDem
Media Indonesia, 26 April 2012

“Hal terpenting dari seorang pemimpin ialah keteladanan yang mewariskan nilai dan etika, yang tidak terhenti ketika ia telah tiada atau malah terhenti ketika potret wajahnya tidak lagi menghiasi baliho kota."

KOTA Mekah, 400 tahun sebelum kehadiran Muhammad, merupakan kota yang terjerembab dalam abad kegelapan (jahiliah). Adalah seorang `Amr bin Luhay yang membawa buah tangan Hubal-Hubal tersebut dari negeri Syam. Dia menjadikan Hubal sebagai sesembahan baru menggantikan ajaran tauhid.

Sejak saat itu, Hubal banyak dijumpai tidak hanya di Kabah, tapi juga di setiap sudut-sudut Kota Mekah. Pemandangan serupa tapi tak sama kita jumpai ketika `Hubal-Hubal abad ke-21' banyak berjejer di setiap sudutsudut kota dalam bentuk baliho serta billboard yang bergambar tokoh-tokoh politik dan keagamaan. Lantas mengapa fenomena Hubal di Mekah serupa tapi tak sama dengan kondisi kekinian?

Politik fetisisme
Tujuan politik seperti yang digariskan Aristoteles sebagai jalan pendorong terciptanya karakter kebajikan pada setiap individu dalam negara tak terasa praksisnya jika melihat kondisi politik terkini. Lalu apa yang kita lihat sekarang?

Apakah kita melihat kekuatan seorang pemimpin dari substansi kepemimpinan yang dibawanya dan tidak terikat pada bentuk-bentuk ragawi ataukah mengesampingkan rasionalitas dengan penonjolan simbol yang malah mendekati pemujaan dan pengultusan?

Politik bertujuan menanamkan nilai dan mencerahkan agar tujuan-tujuan negara dapat tercapai. Namun sebelum itu, politik terlebih dahulu menuntut pengorbanan pelaku politik itu sendiri demi kepentingan publik, yang dalam hal ini adalah pemimpin.

Tidak ada kepemimpinan yang begitu mudah mengubah kondisi masyarakat hanya dengan pengacungan simbol-simbol ragawi tanpa esensi. Karena perubahan yang terbentuk dengan cara instan tidak akan pernah bermuara pada nilai-nilai yang langgeng.

Rabu, 18 April 2012

NasDem Rangkul Mahasiswa

Fajar, 19 April 2012
Ketua Liga Mahasiswa NasDem, Willy Aditya menambahkan mahasiswa memiliki peran penting dalam menghadirkan perubahan sistem perpolitikan di Indonesia. Tanpa keterlibatan mahasiswa dan generasi muda proses perubahan tidak akan terwujud. Makanya Nasdem yang mengusung gerakan perubahan menginginkan mahasiswa jadi bagian dari partai ini.

MAKASSAR, FAJAR -- DPW Partai Nasional Demokrat (NasDem) Sulsel membangun kekuatan dengan merangkul kalangan pemuda, utamanya mahasiswa. Kaum intelektual ini diajak bergabung di partai terbaru ini.

Nasdem merangkul mahasiswa dengan mendirikan organisasi saya bernama Liga Mahasiswa Partai NasDem, yang memang menargetkan pengurusnya dari mahasiswa. Selasa, 17 April, Liga Mahasiswa Nasdem Sulsel mulai merangkul mahasiswa melalui diskusi politik dan mahasiswa di Pualam.

Diskusi ini menghadirkan Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) Unismuh Syaiful Saleh, pengamat politik Arqam Azikin dan Ketua Liga Mahasiswa Nasional Nasdem, Willy Aditya.

Ketua DPW NasDem Sulsel, Sanusi Ramadhan mengajak mahasiswa tidak lagi ambigu dalam wacana politik. Pasalnya, gerakan yang dilakukan mahasiswa dewasa ini tidak lepas dari gerakan politik. "Makanya, kami mengajak mahasiswa dan generasi muda bergabung dengan NasDem. Partai ini memang ingin menjadikan kader intelektual sebagai penopang utama partai," tandas Sanusi.

Ketua Liga Mahasiswa NasDem, Willy Aditya menambahkan mahasiswa memiliki peran penting dalam menghadirkan perubahan sistem perpolitikan di Indonesia. Tanpa keterlibatan mahasiswa dan generasi muda proses perubahan tidak akan terwujud. Makanya Nasdem yang mengusung gerakan perubahan menginginkan mahasiswa jadi bagian dari partai ini.

Nasdem Berikan Pemahaman Politik Bagi Mahasiswa

Ujunpandangekspress, Rabu, 18-04-2012

Ketum Komite Pusat LMN Willy Aditya, mengungkapkan bahwa mahasiswa di ruangan tidak puas dengan kebijakan politik pemerintah. Karena itu ia berharap agar liga mahasiswa Nasdem harus siap memimpin dan dipimpin.

MAKASSAR, UPEKS—Untuk memberi pemahaman mengenai dunia politik, Partai Nasdem menggelar dialog publik liga mahasiswa di Restoran Pualam, Selasa (17/4).

Kegiatan ini dihadiri Ketum Komite Pusat LMN Willy Aditya, Akademisi Syafil Saleh dan Arkam Azikin serta perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus.

Willy Aditya, mengungkapkan bahwa mahasiswa di ruangan tidak puas dengan kebijakan politik pemerintah. Karena itu ia berharap agar liga mahasiswa Nasdem harus siap memimpin dan dipimpin.

Sementara itu Arkam Azikin mengaku sebagai seorang dosen, dirinya tidak melarang mahasiswa untuk berpolitik guna mempelajari dinamika politik. Dimana saat ini yang terjadi sebagian besar penyelenggara negara yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif melanggar simbol dan konstitusi negara Indonesia.

“Hari ini tokoh-tokoh politik tidak mementingkan arti pendidikan kebangsaan, namun transaksi politik berkembang biak dengan kebobrokannya. Karena itu Indonesia masuk 5 besar negara terkorup karena sebagian politisi selalu melakukan korupsi berjamaah,”ungkapnya.

Karena itu Arkam berharap dengan adanya Nasdem bisa ada gerakan penyadaran bagi politisi serta pemerintahan untuk bekerja sesuai keinginan rakyat karena tidak selamanya politik itu kejam. ()