Selasa, 17 Juli 2012

Buku Semangat Restorasi Surya Paloh Diluncurkan

Media Indonesia, 17 Juli 2012

Willy Aditya, sang editor mencoba menstranskrip pidato-pidato Surya Paloh yang diungkapkan dalam berbagai kesempatan, dan terpilihlah 16 pidato yang dinilainya sangat baik dan penting diketahui oleh publik, khususnya generasi penerus bangsa yang cepat atau lambat akan memimpin bangsa ini

BUKU bertajuk "Mari Bung, Rebut Kembali" yang diterbitkan Liga Mahasiswa Nasional Demokrat, hari ini (Senin 16 Juli 2012) diluncurkan dalam sebuah acara di markas Nasional Demokrat Jl RP Suroso, Jakarta Pusat.

Buku tersebut berisi kumpulan pidato Ketua Umum Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh yang dipilih editor Willy Aditya. Disunting Gantyo Koespradono, apa yang tersaji di buku menjadikan seolah-olah pembaca sedang berhadapan dan mendengarkan Surya Paloh -- dengan gaya dan suaranya yang khas -- sedang berpidato.

Karena ditulis dalam sebuah buku, penyunting tentunya berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan kalimat-kalimat lisan pidato Surya Paloh dengan ragam bahasa tulis yang baku. Namun, untuk tidak menghilangkan karakter Surya Paloh yang berapi-api saat berpidato, penyunting sengaja membiarkan istilah atau kalimat-kalimat khas yang biasa dilontarkan Surya Paloh yang tidak sesuai dengan bahasa Indonesia baku.

Willy Aditya, sang editor mencoba menstranskrip pidato-pidato Surya Paloh yang diungkapkan dalam berbagai kesempatan, dan terpilihlah 16 pidato yang dinilainya sangat baik dan penting diketahui oleh publik, khususnya generasi penerus bangsa yang cepat atau lambat akan memimpin bangsa ini.

Roh yang jelas-jelas terlihat dalam buku tersebut, Surya Paloh galau dengan kondisi nasionalisme, persatuan dan kesatuan bangsa yang kini tercabik-cabik. Lebih dari itu, Surya Paloh juga sangat prihatin, sebab ideologi Pancasila yang menjadi perekat bangsa, kini praktis dilupakan, bahkan hilang.

"Jika memang tidak ada lagi yang mempertahankan ideologi tersebut, izinkanlah saya seorang diri berjuang untuk mempertahankannya," begitu antara lain sikap Surya Paloh dalam salah satu pidatonya yang tertuang di buku tersebut.


Maka, beralasan jika Rachmawati Soekarnoputri yang memberikan kata pengantar di buku tersebut mengidentikkan Surya Paloh dengan ayahandanya, Soekarno yang berjuang mati-matian menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan pemersatu bangsa.

Judul buku "Mari Bung, Rebut Kembali" juga diambil dari pengantar yang ditulis Rachmawati. Dengan kata lain, Surya Paloh berusaha merebut kembali ideologi Pancasila yang sekarang diupayakan pihak-pihak tertentu untuk dimusnahkan dari bumi Indonesia.

Salah satu cara untuk merebut kembali kejayaan Indonesia adalah dengan merestorasi Indonesia yang selalu diungkapkan Surya Paloh dalam pidatonya.*

1 komentar:

Vicky Laurentina mengatakan...

Saya bukan penggemar Surya Paloh. Tapi saya rasa saya ingin punya bukunya.